Simply SteffisticateD..
Photobucket - Video and Image Hosting

Tuesday, November 09, 2010

Alvaniacs and international school

Suka banget sama artikel ini:


Mantap Mundur dari IPB untuk Cetak Anak Kupu-Kupu

Berawal dari kegelisahan mencari sekolah buat sang putra, Sri Soelaksmi Damayanti, putri tunggal mantan Mendikbud Daoed Joesoef, memilih berhenti jadi dosen di IPB. Doktor di bidang ilmu mikrobiologi itu ingin anaknya tak sekadar membaca teori dari buku.

RIDLWAN HABIB, Jakarta


SEKOLAH dasar (SD) itu diberi nama Kupu-Kupu bukan karena jendela-jendela ruang kelas yang didesain mirip sayap serangga yang disukai anak-anak tersebut. Bukan juga karena banyak kupu-kupu liar beterbangan di antara aneka tanaman bunga di taman sekolah di Jalan Bangka, Jakarta Selatan, itu.

”Filosofinya sederhana. Suatu saat anak akan mandiri, menjalani hidup selanjutnya dan tidak bisa selamanya jadi kepompong,” ujar Sri Soelaksmi Damayanti, sang kepala sekolah, putri semata wayang Daoed Joesoef, saat ditemui Jawa Pos, Kamis (11/09).

Saat dikunjungi Jawa Pos pagi itu, sebagian siswa sekolah yang didirikan sejak 2004 tersebut sedang berolahraga di luar kelas. Mereka asyik bermain trampolin dan lempar bola basket di halaman. Sesekali guru mereka meniup peluit dan anak-anak itu berlomba adu cepat. ”Asyik, asyik, kita mau dipotret,” ujar anak-anak saat melihat kamera.

Menurut Yanti, panggilan akrab Sri Soelaksmi Damayanti, para siswa tak hanya berasal dari kawasan Kemang, Jakarta Selatan, tempat sekolah berada. ”Ada yang dari Cibubur (Jakarta Timur), Pantai Indah Kapuk (Jakarta Utara), dan Bintaro (Tangerang),” jelasnya.

Sebagian besar siswa SD yang lokasinya menyatu dengan rumah Daoed Joesoef itu adalah alumnus Taman Kanak-Kanak (TK) Kepompong. TK tersebut juga terletak di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. ”Kami berbeda yayasan, tapi bekerja sama. Anak saya, Garin, jadi murid TK itu,” katanya.

SD tersebut memang lahir dari kegelisahan orang tua siswa yang anaknya bersekolah di TK Kepompong. Di TK itu, sejak dini anak-anak sudah diajari konsep active learning. Belajar tak hanya diceramahi guru di depan kelas, tapi melakukan langsung dengan tangan sendiri.

”Jadi, kalau mereka belajar tentang binatang, tak bisa cuma lihat di buku. Harus ada binatang di depan mereka. Kalau belajar tentang akar tanaman, ya cabut tanamannya. Lihat langsung bentuknya, serabut atau tunggang,” ujar wanita kelahiran 1963 itu.

Metode tersebut sreg dengan jiwa Yanti yang sejak kecil mencicipi metode belajar di Prancis saat ikut orang tua kuliah di Sorbonne University.

Bagi ibu dua anak tersebut, belajar harus benar-benar hand on (praktik). ”Jangan hanya membaca teori di buku, bahkan gambarnya pun tidak ada,” katanya.

Teman-temannya di TK Kepompong juga merasa sayang jika kebiasaan anaknya yang sudah baik tidak dilanjutkan di SD yang menerapkan model pembelajaran serupa.

Karena tidak mungkin di SD negeri, alternatifnya, menyekolahkan Garin -anak kedua Yanti- di SD Internasional. ”Tapi, kami ingin sekolah yang berbahasa Indonesia. Keluarga Bapak (Daoed Joesoef) itu nasionalis,” katanya lalu tersenyum.

Pilihan lain adalah menyekolahkan di SD yang dikelola oleh yayasan berbasis agama. Tapi, kata Yanti, orientasi pendidikan anak itu bukan agama. Bukan karena tidak penting, tapi karena Indonesia heterogen. Ada banyak agama, suku bangsa.

”Saya takut, jika hanya bergaul dengan orang yang sama, mereka jadi berpikir sempit. Cupet, bahkan khawatir jika nanti anak menilai orang di luar golongannya salah,” kata Yanti yang suka bercelana jins saat mengajar anak-anak itu.

Yanti pernah mencoba bertemu pengelola sekolah Labschool di Rawamangun, Jakarta Timur, tempat puri sulungnya, Natasha, menempuh SMA. Labschool juga menerapkan metode pendidikan active learning. Tapi, sayang untuk SD belum ada. ”Akhirnya teman-teman bilang, kenapa saya nggak mendirikan sendiri? Lahan ada, Bapak (Daoed Joesoef) juga mendukung,” katanya.

Keluarga itu lalu mendirikan Yayasan Budaya Cerdas sebagai induk SD Kupu-Kupu. Daoed Joesoef duduk sebagai pembina. Suaminya, Bambang Pharma Setiawan, menjadi sukarelawan tetap. ”Jadi, ini memang seperti family enterprise,” kata Yanti lalu tersenyum kepada Bambang yang pagi itu menemani dirinya.

Sebelumnya, Yanti memang sempat berpikir untuk pensiun dini sebagai dosen di Institut Pertanian Bogor (IPB). ”Saya pikir, kalau mengajar di Darmaga (kompleks IPB), waktu empat jam habis di jalan. Jadi, ini kebetulan yang membahagiakan,” ungkapnya.

Pada 2004, Yanti memutuskan mengundurkan diri secara baik-baik kepada pimpinan fakultasnya. ”Kebetulan, dekannya teman baik saya. Beliau memahami. Teman-teman sesama dosen juga bisa menerima dengan baik. Tidak ada masalah,” jelasnya.

Meski sudah tak jadi dosen, Yanti mengaku masih aktif mengikuti perkembangan ilmu mikrobiologi yang dikuasainya. ”Awalnya saya ingin jadi dokter hewan. Tapi, setelah praktik di klinik, kok rasanya ngeri. Jadi, saya mendalami ilmu asal-muasal penyakit. Kalau mau memeriksakan hewan sih bisa, tapi tak dijamin sembuh,” ujarnya lantas tertawa.

Yanti menempuh S-1 di Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Setelah lulus, dia menjadi asisten dosen. Karena berprestasi baik, dia menempuh studi master sampai doktoral (lulus 1997) di University of Kentucky, AS. Di Negeri Paman Sam itulah dia bertemu Bambang dan menikah. Putri sulung mereka juga lahir di AS. Suaminya sekarang masih mengajar sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB).

SD Kupu-Kupu mulai dibuka untuk tahun ajaran 2005-2006. Tentu, angkatan Garin adalah angkatan tertua, sekarang dia baru kelas IV. Di kelas angkatan pertama ada 15 siswa. ”Idealnya satu kelas itu 24 siswa. Itu standar UNESCO agar mudah dibagi jika perlu belajar berkelompok. Bisa dibagi dua, tiga, empat, enam, atau 12,” jelasnya.

Sekarang total ada 82 anak yang belajar di SD itu. Rinciannya, kelas empat 15 siswa, kelas tiga (23), kelas dua (25), dan kelas satu (19). ”Kebetulan, yang sekarang kelas dua itu pindahan dari sekolah yang bubar. Kasihan mereka kalau tidak punya tempat belajar,” katanya.

Kurikulum SD Kupu-Kupu tetap mengacu pada kurikulum Departemen Pendidikan Nasional. Mereka belajar lima hari dalam sepekan. Mulai pukul 7.45 sampai pukul 13.30. ”Khusus untuk kelas empat ada tambahan 15 menit untuk mengecek agenda harian. Itu saya biasakan agar mereka mandiri dan bertanggung jawab atas apa yang harus dilakukan esoknya,” ujarnya.

Menurut Yanti, anak-anak Indonesia tak dibiasakan dengan sistem pencatatan agenda. Akibatnya, perintah guru hanya diingat-ingat dalam otak. Ujung-ujungnya lupa dan menyepelekan tugas. ”Saya pernah mengeluarkan setengah kelas mahasiswa saya karena mereka lupa membawa tugas yang saya minta kumpulkan. Itu bukan salah mereka, tapi salah sistem. Mereka tak diajari sejak kecil,” tegasnya.

Berbeda dari SD lain, tak tampak orang tua yang menunggui anaknya sekolah. Bahkan, di gerbang masuk ada tulisan besar yang ditempel. Bunyinya, ”Batas bagi Pengantar dan Penjemput”. ”Mereka harus diajari mandiri sedini mungkin,” ungkapnya.

Pengajar SD itu juga tak sembarangan. Rata-rata lulusan S-1 fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Ada juga yang dari Sastra Inggris UI dan Arsitektur. ”Prinsipnya, mereka harus punya kompetensi mengajar sesuai mata pelajarannya,” jelasnya.

Daoed Joesoef menambahkan, jiwa pendidikan keluarganya memang nasionalisme. ”Itu yang harus dimulai sejak kecil,” katanya.

Meski Yanti pernah melewati masa kecil di Prancis dan lama berstudi di Amerika, jiwa ke-Indonesia-annya selalu dijaga benar.

Daoed prihatin atas banyaknya sekolah internasional yang mata pelajarannya seluruhnya diberikan dalam bahasa asing. ”Itu aneh bagi saya. Kalau anak Indonesia yang sedang di Singapura, it’s ok. Tapi, ini di negeri kita sendiri. Terus nanti sejarah nasional diajarkan siapa? Apa lagu Indonesia Raya juga mau dinyanyikan dengan bahasa Inggris?” ujarnya.(el)

Sumber: Jawa Pos, 13 September 2008



***

Coba ada lebih banyak orang yang nyadar kayak gini ya...

Miris banget deh kalo liat anak-anak sekarang pada banyak gaya pake bahasa Inggris..
anak SD, bahkan TK gitu... ngomong bahasa Indo aja belepotan... -_-""

Gwe termasuk yang kurang suka sama sekolah internasional..
yang pake bahasa Inggris n bahasa Mandarin buat komunikasi di sekolahnya..
yang pake pengajarnya dari luar segala..

Don't get me wrong
gwe suka banget BANGET sama yang namanya bahasa
bahkan kadang, yang terlontar bahasa Inggris, bukannya bahasa Indo
karena bahasa Indo itu verbose (!!!)
*kagak heran kan orang Indo leletlambretalamborghini


Dipikir-pikir, mungkin (MUNGKIN loh ya, kan gwe belom punya buntut)
ortu-ortu yang masukkin anaknya ke sekolah internasional mikirnya gini:


#1. ntar ni anak ga kagok lagi deh kalo ngelanjutin di luar negeri
--> SALAHBESAR BOK.
ketemu bule asli amrik aja takut diajak ngomong, mau gimana pergi belajar ke luar negeri???



#2. biar pikirannya lebih terbuka sama dunia global, ga sempit
--> OH REALLEEHH??
mereka bahkan ngga bisa dan ngga biasa denger berita dalam bahasa Indo, jadinya, wawasan mereka nol besar gitu deh...
ngomong 'boros' aja "the word my mum often used on me...mmmm apa yaaa.."
*gubraaaaaakkk...



#3. temenannya sama anak-anak yang 'sederajat' jadinya aman deh... bawa BB ke sekul itu uda biasa kok, yuk pak sopir, berangkat *tutup pintu alphard*
--> errrrr...



#4. mereka ga terbebani tugas mata pelajaran yang ga perlu, soalnya biasanya di sekolah nasional, mata pelajarannya buanyak bangettttt... dan ga semuanya perlu
--> maybe, tapi bukannya bisa milih sekolah nasional yang sesuai sama tipe anaknya ya?


kan ada yang punya ekskul banyak buat yang aktif
ada yang akademiknya gila gilaan buat yang demen belajar
ada yang nyanteeeee.... buat yang nyanteeee.... heehehe



Inti nya sih, gwe sangat ga setuju kalo anak tinggal di Indonesia, tapi ngomong bahasa Indonesia aja susah.


Emang Indonesia udah semaju itu ya, pada ngomongnya Inggris semua?
Menteri-menteri aja kalo bikin kampanye bahasa Inggris suka kacau dan buntut-buntutnya diketawain sama kita-kita di forum atau twitter...



Yang belajar bahasa Inggrisnya dari les atau mulai dari SMP, banyak kok yang bisa sukses juga belajar di luar negeri...
Yang udah di luar negeri aja belom tentu Inggrisnya topcer



Kalau menurut saya, belajar bahasa itu sedikit banyak kayak belajar matematika
ada rumusnya.
runut, teratur.



Jadi, kalo kita terbiasa dengan struktur bahasa yang bagus, gwe percaya struktur berpikir kita juga bagus, runut, teratur.


Not necessarily pinter atau ethically/ politically correct, tapi bisa dirunut.
(ini aja gwe pake bahasa gado-gado, wakakakkakakakak)



Gwe suka banget ngedit skripsi orang... gemes kalo ngeliatin kesalahan-kesalahan yang biasanya terlewatkan:
(Yes, I'm a grammar officer....netttnooooott)




Kesalahan yang umum ditemukan pada penulisan bahasa Indonesia (ca elahhh prikitiw):

- Meskipun, walaupun dll. itu ga boleh ditempatin di awal kalimattttttt...


- Kalau di bhs Ingg, suka pake "If.....then....."
tapi kalo di bahasa Indo, yang bener, pake salah satu aja. Jika ATAU Maka

contohnya:
Jika tidak makan, saya lapar. atau. Saya tidak makan, maka saya lapar.

Bukannya:
Jika saya tidak makan, maka saya lapar. *tetttoooootttt*



- "Walaupun hari hujan, tetapi saya tetap berangkat"
nah, double negation ini juga sering dijumpaiiii...
salah satu aja..



- pasangan: "tidak... tetapi" "bukan.... melainkan"
jangan dituker-tuker yah... hihihi



- ANTARA. doh, banyak banget yang suka nulis begini:
"peneliti mempelajari perbedaan antara A dengan B"
---> "antara... DAN" not "DENGAN"



- di-ke-dari...
banyakkkkk bangetttt yaa, yang masi sering kebalik tulis di- dan di kata sambung
dipisah atau disambung. aihhh... huehuehuehue



-di bahasa Indo, ga ada tuh istilahnya
"tempat di mana kami bertemu pertama kali"
di mana, yang mana, itu semua kata tanya dan ga boleh dipake di tengah kalimat

langsung aja "tempat kami bertemu pertama kali" kedengeran oke juga kan?


dll dll dll
tapi mostly orang salah di situ sih. hehehehe



Makanya gwe suka banget terima kerjaan translate jurnal-jurnal mahasiswa lain.
Seneng gitu loh, ngutak-ngutik kalimat.

...
...
.....
Bok, gwe salah jurusan yaaa????!!!!! T_T


yah, inti dari segala inti, kembali lagi...
idup di Indonesia...
sejelek-jeleknya, semacet-macetnya, sebanjir-banjirnya (hiks)
dan segoblok-gobloknya pemerintahan kita
(they're RIDICULOUS!!!! oh em ji.... mo jadi apa sih Indonesah)

paling engga bisa gitu, ngomongnulisdenger bahasa Indonesia yang baik dan benar... hihihi


-ditulis dengan bahasa Indo yang sangat tidak baik dan campuraduk... yo i dehhh-



*special note:
gwe tau Cing, kalo lo baca ini, lo pasti komen
'Uda tep, lo jadi anaknya bu Win aja'

hyakhyakahyaakahayahakahkahkahkahkahkakahkahkahaka






- Out -


AlvaNiacS sails the ship @ 9:10 PM
|
the Chief.
Steffi . Teppi
June, 14, 1987
Jakarta, Indonesia
currently attend Trisakti Univ., Dentistry ('05)
taken

Image hosted by Photobucket.com


the New Land.

[ ] be a dentist in 2011, at least *crossing finger*
[ ] visiting Europe
[ ] participating in The Amazing Race Asia
[ ] "you just don't understand" by Deborah Tannen



the Pier.
+ mail Stef ! +
Facebook Account


the Harbour.


ShoutMix chat widget



the Seashore.

the TreasureChest.
April 2004. May 2004. September 2004. October 2004. November 2004. December 2004. January 2005. February 2005. March 2005. April 2005. May 2005. June 2005. July 2005. August 2005. September 2005. October 2005. November 2005. December 2005. January 2006. February 2006. March 2006. April 2006. May 2006. June 2006. July 2006. August 2006. September 2006. October 2006. November 2006. December 2006. January 2007. February 2007. March 2007. April 2007. May 2007. June 2007. July 2007. August 2007. September 2007. October 2007. November 2007. December 2007. January 2008. March 2008. April 2008. May 2008. June 2008. July 2008. August 2008. September 2008. October 2008. November 2008. December 2008. January 2009. February 2009. March 2009. April 2009. May 2009. June 2009. July 2009. August 2009. October 2009. November 2009. December 2009. January 2010. February 2010. March 2010. April 2010. May 2010. June 2010. July 2010. August 2010. October 2010. November 2010. December 2010. March 2011.


the Crew.
[Calista] [CingCing] [Che-Che]
[Immilia] [Irene Razzly] [Josephine]
[Marshal] [Olive] [Pak Agust]
[Radith] [Ko Ramzi]
[Ririe]
[Steph] [Sonia]