Wednesday, April 04, 2007
Oto-chan
hmm.. inggris. indo. inggris. indo. inggris. indo
...
........
...
-berhubung kondisi lagi cape ati gara-gara MSN ngajakin berantem..
mari kita berbahasa indo saja yah... huhu.. ilang mut deh...-
Hai dunia! :)
saya sekarang sedang dalam minggu ke-4 semester-4 nih..
kalo di minggu-minggu awal saya berasa uring-uringan karena ritme semester ini,
sekarang ngga lagi..
saya malah enjoy sekali loh.. haha~
jadi agak-agak berasa balik ke sanur lagi
soalnya sekarang kan saya jadi sekretaris di Apolonia (perkumpulan mahasiswa Katholik FKG Usakti)
yang kerjaannya yah... gitu deh.. sama lagi kayak dulu jaman sma...
ketik ini, ketik itu....
-saya memang senang jadi sekre!-terus lagi.... ngga gitu banyak praktikum
jadi lebih fokus ke teori.. mantap kan?
dan pelajaran yang tadinya saya pikir gahar-gahar gitu
ternyata ngga segitu nya...
bukan bilang gampang juga... tapi ya, masih dalam tahap reasonable buat dicerna otak deh.
mari kita buktikan di ujian nanti....
plus!
saya lagi suka-sukanya sama kerjaan saya di tempat les Inggris..
dan baru beli buku-buku bagus...
aduh, sip sekali bukan?
- aduh, saya jadi terdengar nerdy-baru minggu kemaren beli 2 buku;
yang pertama judulnya
Veronika Decides to Die by Paulo Coelho,
yang kedua judulnya
No One's Perfect by Ototake Hirotada -nah, yang ini yang udah kelar nih
ceritanya bagus banget!
Ototake Hirotada -Oto-
dia lahir di Jepang, 1976.... dengan keadaan tetra-amelia
means without limbs... his four limbs
Ayahnya Oto sampe ga ngebolehin Mamanya Oto untuk ngelihat anaknya sampe 3 minggu sesudah melahirkan.. karena takut istrinya shock
tapi ternyata kata-kata pertama yang diucapin sama Mamanya Oto waktu liat dia adalah
'He's adorable'Di buku ini Oto ncritain tentang kehidupan dia di Jepang selama masuk TK, SD, sampe kuliah!
gimana struggle-nya dan attempt dari family dia buat memperjuangkan biar Oto bisa masuk ke sekolah reguler, bukannya SLB
terus gimana Oto memandang dirinya sendiri, lingkungan sekitar dia, orang-orang sekitar dia..
Oto bisa maen softball, ketik komputer, BASKET!, makan pake sumpit...
-ada fotonya kok, di bukunya!-
Waktu kelas 4 SD, dia harus dioperasi
karena tulang-tulang tangannya mendesak keluar, padahal kan dia ngga punya tangan?
jadi, tulangnya kayak mau nembus keluar dari 'tangan' nya
...
kebayang ngga sih?
aduh...
kalau kata temen saya, mungkin cerita ini bisa masuk ke acara 'Kejamnya Dunia' di TransTV itu
Saya sangat suka saat dia bertanya-tanya tentang apa yang mau dia lakukan untuk hidupnya,
mau jadi apa nantinya
Karena selama ini dia ngga pernah menganggap dia sebagai
'disabled person'Dia bisa melakukan semua yang orang '
normal' bisa lakukan
well, mungkin ada beberapa hal di mana dia butuh bantuan
tapi dia sama sekali tidak berpikir kalo dia itu cacat
'It's just a mere physical trait.. just like white-black, tall-short..'Saya suka saat dia pertama kali memposisikan dirinya sebagai disabled person
karena dia berpikir, Tuhan pasti punya tujuan mengapa dia dilahirkan dalam keadaan begini
Oto berpikir, apa hal yang hanya orang cacat bisa lakukan?
Lebih spesifik lagi, apa yang hanya OTO seorang bisa lakukan?
- posisi Oto di dunia ini-
Saya sangat suka waktu dia bertanya sama anak kecil saat dia ngadain talk show
-terjemahan dalam bahasa Indo, dalam bahasa sehari-hari- :
Oto : kamu menganggap orang dengan kursi roda itu cacat?
Anak : iyaOto : apakah teman kamu banyak yang memakai kacamata?
Anak : iyaOto: mereka pakai kacamata kan karena mata mereka ga bisa berfungsi dengan baik.
Nah, saya juga begitu, saya pakai kursi roda karena kaki saya tidak bisa berfungsi dengan baik.
Anak: iya, sama!Oto: kamu menganggap teman-teman kamu yang berkacamata itu cacat?
Anak : tidakOto: jadi kenapa kamu menganggap orang dengan kursi roda itu cacat (disabled)?
Anak: karena meskipun mereka sudah pakai kursi roda, tetap saja banyak hal yang tidak bisa mereka lakukan (disabled in many things)Jadi, Oto bilang, yang membuat seseorang disabled/cacat itu lingkungannya, bukan keadaannya
Misalnya, dia jadi
'disable' untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain
karena antara platform dan lantai stasiun kereta ada gap-nya
karena bus di Jepang ga ada lift untuk kursi roda
orang dengan kursi roda jadi
'disable' untuk sekolah reguler (untungnya dia sih engga, ya)
karena gedung-gedugn sekolah ngga difasilitasi untuk orang-orang dengan kursi roda
tangga di mana-mana, misalnya.
ngga ada ramp atau lift.
kalau saja lingkungan di sekitarnya kondusif, maka orang-orang dengan kursi roda juga tidak akan 'disabled'
Oto juga bilang, di Amerika, sistemnya sangat bagus
karena di sana, individualitas sangat dihargai..
jadi orang Amrik ga terlalu ngurusin penampilan orang lain
jadi, biarpun banyak orang yang seliweran di kursi roda, itu bukan pemandangan aneh
Lain dengan di Jepang, yang katanya one of the most homogenous country in the world
Jadi, orang Jepang cenderung kurang menerima sesuatu yang berbeda
-sar ser sama di Indo lah ya, menurut saya-Saya suka statement-nya
bahwa walaupun apa yang dia bisa lakukan lebih terbatas dibandingkan dengan orang lain
tapi itu bukan alasan untuk dia tidak hidup bahagia
Dan bagaimana dia sangat menghargai teman-teman, dan ortunya...
Aduh, bukunya keren sekali...!
tentang perjuangan hidup,
melawan pandangan stereotipe -dengan tidak asal-asalan-,
menemukan posisi dalam hidup ini,
tentang berartinya keluarga dan teman,
dan tentang menerima keadaan diri sendiri....
Saya cari info tentang Oto di internet..
sekarang dia jadi co-presenter untuk TV di Jepang... hebat ga tuh?
huhuhu.. mantap!
Buku
Veronika Decides to Die lagi dalam proses.. tinggal setengahnya lagi nih!
nanti saya akan berceloteh kembali! hehehe...
note #1:
beli buku bagus emang nguras dompet..
kenapa tidak ada toko buku seperti
'Sunny' -di Spore- di Jakarta?
lebih murah, disampul pula.. hhuhuhuuhuhu!
bokek nih...
note #2:
'Hiro' dari 'Hirotada' artinya laut...
Papanya Hiro berharap dia punya hari seluas samudera -arti nama seluruhnya kepanjangan kalo saya tulis di sini, baca aja sendiri deh!-
Ah, jadi inget wali kelas saya dulu di sanur, si Ibu Surti
dia dulu kasih wejangan
'Sedikit garam akan kerasa asin -sampe pait- kalo kamu tuangnya di gelas.. tapi sebanyak apapun garamnya, kalo kamu tuang ke samudera.. ga bakal kerasa asin apalagi pait.Jadi, kalau kamu punya hati seluas samudera, kamu akan bisa nerima semuanya tanpa ngerasa pait'aih, jadi kangen sanur!
- Out -
Labels: daily, review
|